Jejaring Sosial: Membuat tahu tapi tidak membuat mengerti


Berbicara mengenai jejaring sosial, rasanya sudah tidak asing lagi mungkin ditelinga anda, sama halnya ditelinga saya, mungkin saya adalah salah satu orang yang mendengar setiap perkembangan jejaring sosial (social network) dari mulai “Lar, FS (Friendster) mu apa?” beberapa tahun berikutnya ada lagi yang nanya “Lar, Add FB (Facebook) aku ya..” hingga kini yang paling anyar heboh “Lar, follow aku dong” dan mungkin anda juga pernah ditanya demikian oleh teman atau kolega anda.
Bukan main orang-orang bule menciptakan suatu jejaring sosial mbuh lah terserah opo kuwi jenenge! terkesan sederhana tapi bukan main efek samping yang ditimbulkan, baik itu efek samping segi positifnya (untuk nambah silaturahmi dan lain sebagainya) maupun efek samping sisi negatifnya (untuk menipu, judi online dan lain sebagainya), bagi saya itu wajar karena sisi manfaat atau malah membuat masalah itu tergantung kepada user, kita tidak bisa menyalahkan pihak jejaring sosial.
Baik tua maupun muda, dari desa sampai kota saya rasa hampir semua tahu dan punya akun jejaring sosial, tak terbatas strata sosial, ekonomi, pendidikan, sampai ke tukang dagang kaki lima sekalipun saat ini tau Facebook. Kalau tidak percaya amati saja sekeliling kita! apalagi saat ini, kecanggihan perangkat teknologi informasi semakin memanjakan, orang Sunda bilang: “masing keur di sawah bari maculge, ayeunamah bisa bari masang status! ” atau kalau orang bule menyebutnya “everytime and everywhere”. Ditambah lagi harga perangkat gadget yang makin hari makin murah (Hape 300rbuan aja bisa ngenet bang!) bicara masalah biaya internet service provider (ISP) iklan aja sampai bilang “hemat bebeb” . Jadi yaa…. jangan heran kalau siapapun kapanpun dimanapun bisa online.
Fenomena ini mungkin bukan fenomena yang aneh, tapi bagi saya aneh! Saya punya suatu ilustrasi, Suatu ketika ada seorang remaja wanita yang pusing mencari referensi tentang bagaimana membuat sebuah kue, saya lihat di tangan dia sedang memegang Smartphone. saya tanya, “itu B* nya bisa twitteran ga? bisa facebookan ga?” dia jawab “Bisa!”. “coba kamu buka internet di B*mu kemudian buka search engine, lalu ketikan kata kunci resep kue!” dia melakukan apa yang saya instruksikan, lalu keliatannya ia menemukan apa yang ia cari dan langsung bicara “oia ya ada ini resep kuenya, makasih ya”
Dari ilustrasi diatas saya dapat menyimpulkan bahwa pada hari ini hampir setiap orang dengan adanya jejaring sosial tahu apa itu internet, tapi tidak membuat orang mengerti fungsi utama dari sebuah internet, dalam arti radikalnya “Terkadang jejaring sosial membutakan ilmu pengetahuan yang sebenarnya” (Semoga tidak berlaku bagi Kompasiana)

  • Digg
  • Del.icio.us
  • StumbleUpon
  • Reddit
  • RSS

0 komentar:

Posting Komentar